Katakalam hikmah, "Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan". Karenanya, Allah memiliki banyak cara untuk mengabulkan doa. Nah, inilah 5 cara Allah mengabulkan doa hamba-Nya: 1. Allah segera memberikan sesuai permintaan hamba-Nya Allah mengabulkan doa hamba-Nya itu kadang dengan memberi apa yang dia minta.
Jakarta - Haji mabrur adalah ibadah haji yang makbul atau diterima oleh Allah SWT. Setiap jemaah haji tentu menginginkan ibadahnya menjadi haji dari buku M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman, kata 'mabrur' dari segi bahasa diambil dari kata 'barra' yang memiliki banyak makna, antara lain berarti surga, benar, diterima, pemberian, atau keluasan dalam mabrur diartikan sebagai ibadah haji yang sempurna hukum-hukumnya. Ibadah haji yang dilakukan seseorang bisa menjadi makbul apabila ia menjalankannya sesuai dengan yang telah disyariatkan oleh agama Islam dan tuntunan Rasulullah SAW. Sedangkan ibadah haji yang tidak diterima atau ditolak oleh Allah SWT tentunya ibadah yang bercampur dengan sesuatu yang diharamkan, seperti berbuat maksiat atau dosa haji mabrur sebenarnya tidak dikenal dalam Al-Qur'an, tetapi telah disebutkan dalam beberapa riwayat hadits. Apa saja haditsnya?Berikut ini di antaranya hadits Rasulullah SAW tentang haji mabrur, dilansir dari laman NU Online dan Kitab I'tikaf dan Kitab Zikir-zikir karya Imam Abu Zakaria Yahya, Tanda-tanda Haji Mabrurعَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِArtinya Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga." Lalu sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa tanda mabrurnya?" Rasulullah SAW menjawab, "Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik." HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi.Berdasarkan hadits tersebut, haji mabrur ditandai dengan ibadah yang dilaksanakannya tidak mengandung maksiat di dalamnya serta dengan memberikan makan kepada orang lain dan menjaga ucapan yang Haji Mabrur Menjadi Amalan yang Utamaوَعَنْهُ قال سُئِل النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَيُّ العَمَلِ أَفضَلُ ؟ قال إيمانُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ» قبل ثُمَّ مَاذَا ؟ قال الجِهَادُ في الله قيل ثم ماذا ؟ قَالَ حَجٌ مَبْرُورٌ متفق عليه سَبِيل المَبْرُورُ هُوَ الَّذِي لا يَرْتَكِبُ صَاحِبُهُ فِيهِ مَعْصِيةArtinya Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya, "Amalan manakah yang lebih utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan RasulNya." Lalu beliau ditanya lagi, "Kemudian apakah?" Beliau menjawab "Jihad fi-sabilillah." Masih ditanya lagi, "Kemudian apakah?" Beliau menjawab "Haji yang mabrur." Muttafaq 'alaih.3. Haji Mabrur Mendapat Balasan Surgaوعَنْهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ العُمْرَة إلى العُمْرِة كَفَّارة لما بينهما والحجُّ المَبرُورُ لَيس لهُ جَزَاء إِلَّا الجَنَّةَ متفق عليهArtinya Dari Abu Hurairah RA pula, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan surga." Muttafaq 'alaih.4. Orang yang Hajinya Mabrur Kembali Suci Seperti Baru Dilahirkanوَعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقولُ منْ حَجَّ فَلَم يُرْفُتْ وَلَم يَفْسُقُ رَجَعَ كَيَومِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ متفق عليهArtinya Dari Abu Hurairah RA, ia berkata mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa yakni kemaksiatan besar atau yang kecil tetapi berulang kali, maka ia akan kembali dari ibadah hajinya itu sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya yakni tidak ada dosa dalam dirinya sama sekali." Muttafaq 'alaih5. Haji Mabrur Termasuk Sebaik-baiknya Jihadوَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يا رَسُولَ الله نَرى الجِهَادَ أَفضَلَ العملِ أَفَلا نُجَاهِدُ ؟ فَقَالَ لَكِنْ أَفْضَلُ الجِهَادِ حَج مبرور رواه البخاريArtinya Dari Aisyah RA, ia berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu, apakah kita kaum wanita tidak baik mengikuti jihad?" Beliau lalu menjawab, "Bagi engkau semua kaum wanita, maka sebaik-baiknya jihad ialah mengerjakan haji yang mabrur." HR Bukhari.Itulah 5 hadits Rasulullah SAW tentang haji mabrur yang di antaranya menggambarkan tanda, ciri-ciri, dan keutamaannya. Semoga para jemaah haji yang melaksanakan ibadahnya di tahun ini dapat kembali dengan haji yang mabrur. Simak Video "Intip Fasilitas Hotel Haji Plus Arminareka Perdana" [GambasVideo 20detik] lus/lus
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita."
Allah Berikan yang Terbaik dan Apa yang Kita Butuhkan seringkali kita dihadapkan masalah tentang pilihan, memilih dari beberapa pilihan. Karena sejatinya hidup selalu berbenturan dengan berbagai pilihan. Kita dipaksa untuk selalu memilih segala hal, mulai saat sekolah memilih sekolah yang baik. Urusan pekerjaan, bahkan untuk memilih pasangan untuk menghadapi sisa usia hingga senja. Ketika kita saat lulus sekolah, banyak pilihan kampus dengan jurusannya yang sesuai dengan minat, bakat, harapan, cita-cita, impian yang diinginkan. Kampus milik swasta yang mahalnya luar biasa dan biasanya sebagian dari kita berusaha sebaik mungkin untuk masuk ke kampus negeri atau kedinasan. Seperti yang pernah penulis alami, saat memilih kuliah, banyak kampus yang di coba, tes di sini, di sana dan di mana-mana. Pada akhirnya hidup memang harus memilih, hingga penulis berterimakasih kepada Allah, atas izin-Nya penulis mendapat hidayah saat kuliah di kampus ini, sampai akhirnya hijrah dan berhijab. Ternyata kampus inilah yang terbaik, yang Allah berikan, walaupun tidak suka pada awalnya. Begitupula saat memilih jodoh, kitapun diberikan banyak pilihan-pilihan, ada yang berjuang dalam waktu yang panjang, penantian atau memutuskan. Tak jarang ada yang sangat mudah dipertemukan, tapi ada pula yang butuh sabar menggenapkan separuh agamanya, karena tak jua terlaksana. Ada pula pasangan yang menikah bukan kriteria yang diinginkan, tapi ternyata setelah beberapa lama menjalankan pernikahan, barulah terungkap betapa pasangan yang Allah berikan adalah yang sesuai untuk kita, saling melengkapi dalam kebaikan dan saling menutupi dalam kekurangan. Seperti itulah jodoh yang Allah pilihkan. Dan contoh-contoh lain yang juga kita alami dalam hidup ini. Hingga baru beberapa waktu kemudian Allah memberikan jawaban dan hikmah dari sebuah pilihan. Karena sesungguhnya Allah memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan yang kita inginkan. Seperti yang Allah sampaikan dalam QS Al Baqarah 2216 yaitu “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Kuncinya adalah apapun keputusan dari pilihan yang ada dalam hidup kita, tetaplah selalu berbaik sangka kepada Allah, Sobat Nida. Bahwa yang akan terjadi atas kehendak-Nya yang Maha Mengetahui, serta selalu yang terbaik yang akan diberikan-Nya, meskipun kita tidak menyukainya.
PembahasanAl-Ghazali tentang ilmu dirayah hadits yang tertuang dalam kitab Al Mustashfa. Dalam kitab tersebut Al-Ghazali menerangkan tentang ungkapan-ungkapan yang digunakan para sahabat dalam meriwayatkan hadits, tentang hadits mutawatir, hadits ahad, dan sebagainya. Semoga Allah memberikan manfaatnya bagi kita dan semua kaum muslimin
Terdapat sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terlepas dari status atau tingkatannya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu anhu berbunyi sebagai berikut اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Artinya “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.” Penggalan pertama dari hadits di atas, yakni اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا dipahami secara berbeda oleh berbagai orang. Ada sebagian orang yang memahaminya sebagai perintah supaya dalam bekerja untuk mencari dunia kita hendaknya melakukannya sebaik dan sekeras mungkin supaya mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya sehingga mencukupi seluruh kebutuhan karena akan hidup selamanya. Pemaknaan seperti itu sesungguhnya tidak tepat meskipun dengan dalih sebagai perimbangan terhadap penggalan kedua dari hadits tersebut, yakni وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا. Di antara kaum Muslimin tidak ada perbedaan pendapat tentang makna penggalan kedua ini. Mereka sepakat bahwa bekerja untuk kepentingan akhirat harus dilakukan sesegera mungkin dan sebaik-baiknya karena kita dianjurkan berpikir seolah-olah besok kita akan mati. Pemaknaan yang benar terhadap penggalan pertama dari hadits di atas adalah sebagaimana dijelaskan Muhammad Mutawalli asy-Sy’rawi dalam Tafsir asy-Sya’rawi Akhbarul Yaum, 1991, jilid 3 hal. 1752 terkait dengan tafsir surat Ali Imran ayat 133 sebagai berikut الناس تفهمها فهماً يؤدي مطلوباتهم النفسية بمعنى اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً يعني اجمع الكثير من الدنيا كي يَكفيك حتى يوم القيامة، وليس هذا فهماً صحيحاً لكن الصحيح هو أن ما فاتك من أمر الدنيا اليوم فاعتبر أنك ستعيش طويلاً وتأخذه غداً، أمَّا أمر الآخرة فعليك أن تعجل به Artinya “Manusia memahami penggalan hadits yang berbunyi “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya” dengan pemahaman yang menuntut terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikologis, yakni pemahaman supaya mendapatkan sebanyak-banyaknya dari dunia ini untuk mencukupi kebutuhan hidup hingga hari kiamat. Pemahaman seperti itu tidak benar, akan tetapi yang benar adalah bahwa jika engkau tidak bisa meraih sesuatu dari dunia ini pada hari ini, maka berpikirlah sesungguhnya engkau akan hidup lama dan akan dapat meraihnya esok hari. Sedangkan terhadap apa yang terkait dengan akhirat, engkau hendaknya bersegera meraihnya.” Jadi berdasarkan penjelasan dari Imam asy-Sy’rawi di atas, pemaknaan yang benar adalah bahwa kita bekerja untuk mendapatkan hal-hal duniawi cukup seperlunya saja. Hal ini karena kita dianjurkan untuk berpikir bahwa kita akan hidup selamanya sehingga hari esok masih ada dan masih banyak waktu untuk melakukannya. Dalam kaitan ini ada pepatah Jawa yang sejalan dengan pemaknaan seperti itu, yakni “Ana dina ana upa ada hari ada nasi.” Artinya selama masih ada kehidupan, rejeki selalu tersedia setiap hari sehingga tidak perlu bekerja mencari dunia secara “ngaya” atau bekerja terlalu keras hingga lupa ibadah dan lupa waktu untuk istirahat. Allah subhanu wata’ala telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an, surat an-Naba’ bahwa kehidupan ini telah diatur sedemikian rupa; ada siang dan ada malam. Masing-masing memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kedua ayat itu berbunyi sebagai berikut وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا ١٠ وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا ١١ ـ Artinya ”Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian 10, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” 11 Ibnu Katsir menafsirkan ayat 10 di atas sebagai berikut أي يغشى الناس بظلامه وسواده، كما قال {والليل إذا يغشاها} Artinya “ Allah menjadikan malam untuk menutupi semua manusia dengan kegelapannya. seperti yang disebutkan-Nya dalam ayat lain وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها Artinya “Dan malam apabila menutupinya.” Asy-Syams 4. Selanjutnya beliau menambahkan keterangan dengan mengutip pendapat Qatadah sebagai berikut وقال قتادة { وجعلنا الليل لباساً} أي سكناً. Artinya “Qatadah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pakaian” adalah ketenangan.” lihat Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Dar Ibn Hazm Beriut, Cetakan I, 2000, hal. 1952-3. Jadi intinya adalah Allah menjadikan malam sebagai saat yang gelap agar manusia istirahat dengan tenang. Mengenai ayat 11 di atas, Ibnu Katsir menafsirkannya pada halaman yang sama sebagai berikut أي جعلناه مشرقاً نيراً مضيئاً ليتمكن الناس من التصرف فيه والذهاب والمجيء للمعايش والتكسب والتجارات وغير ذلك Artinya “Allah menjadikan siang terang benderang supaya manusia dapat melakukan aktivitasnya untuk mencari upaya penghidupan dengan bekerja, berniaga, dan melakukan urusan lainnya.” Memperhatikan kedua ayat di atas, kita diharapkan dapat bekerja untuk dunia secara logis. Oleh karena kita dianjurkan untuk berpikir bahwa seolah-olah kita akan hidup selamanya, maka sesungguhnya kita harus pula berpikir bahwa terdapat banyak sekali kesempatan dalam hidup ini untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan. Jika hari ini kita belum mendapatkan apa yang kita butuhkan, esok hari masih ada kesempatan untuk mendapatkannya sehingga kita tidak perlu bekerja memforsir diri dengan melupakan perlunya istirahat. Cara seperti ini justru bisa merugikan diri sendiri karena riskan jatuh sakit akibat kelelahan. Allah menjadikan malam sebagai saat yang tenang agar kita semua bisa istirahat dengan tenang sekaligus memulihkan kembali stamina kita agar esok hari bisa melanjutkan bekerja sebagaimana lazimnya manusia bekerja. Saat malam juga sangat baik untuk melakukan qiyamul lail dengan terlebih dahulu tidur secukupnya. Mengisi malam dengan berbagai ibadah di malam hari hendaknya tidak sengaja kita lewatkan begitu saja sebab justru dalam konteks inilah penggalan kedua dari hadits di atas menemukan relevansinya, yakni pada saat ada kesempatan beramal untuk akhirat, maka kesempatan itu tidak boleh disia-siakan dan supaya dikerjakan dengan sebaik-baiknya karena bisa jadi esok hari kita telah mati. Kesimpulannya, penggalan hadits “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya” mengandung makna bahwa kita tidak boleh bekerja mencari dunia secara “ngaya” atau bekerja terlalu keras hingga lupa ibadah dan lupa waktu untuk istirahat karena sesungguhnya selama Allah masih memberi kita kesempatan untuk hidup, selama itu pula Allah menjamin ketersediaan rezeki bagi kita. “Ana dina ana upa.” Muhammmad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta.
. r7e0pbc3y9.pages.dev/468r7e0pbc3y9.pages.dev/370r7e0pbc3y9.pages.dev/471r7e0pbc3y9.pages.dev/81r7e0pbc3y9.pages.dev/364r7e0pbc3y9.pages.dev/260r7e0pbc3y9.pages.dev/181r7e0pbc3y9.pages.dev/438
hadits tentang allah memberikan apa yang kita butuhkan